Hari Ayah dari Perantauan : Cara Anak Minangkabau Memaknainya

Oleh : Chelselya Maharani

Mahasiswi Sastra Jepang Universitas Andalas Padang

Indocorners.com|Marantau, sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Minangkabau. Sebuah kata yang bukan hanya sekedar istilah tetapi tradisi turun temurun yang sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.

“Karatau madang di ulu, babuah babungo balun” “Marantau bujang daulu di rumah paguno balun”

Begitu pepatah adat yang menegaskan bahwa dewasa bukan hanya soal umur, tetapi juga tentang keberanian menjemput pengalaman hidup diluar tanah asal, meninggalkan rumah demi ilmu dan masa depan. Marantau berarti belajar, berjuang dan bertumbuh dalam kemandirian.

Hari Ayah mungkin secara nasional tidak sepopuler Hari Ibu. Kadang sering berlalu begitu saja tanpa seremonial. Namun hal ini menjadi perenungan bagi anak perantau khususnya mahasiswa. Ada rindu yang tak sempat diucapkan, ada harapan yang ingin segera diwujudkan, dan ada tanggung jawab yang ingin dibuktikan.

Ayah berperan membentuk watak. Ia barisan terdepan yang mendorong kita pergi kuliah jauh, bukan karena tak sayang tetapi karena ia ingin anaknya mengembangkan sayap dan terbang tinggi, ia percaya bahwa dunia harus dijelajahi. Ayah mungkin tidak begitu ekspresif dalam kata-kata. Untuk sekedar mengungkapkan “Ayah sayang kamu” tetapi ia wujudkan dalam bentuk tindakan. Ia bekerja keras demi pendidikan anaknya, mengantar ke terminal di pagi buta, dan mungkin hanya sekedar telepon singkat dengan makna “Kapan pulang” yang tidak secara langsung beliau ucapkan.

Dalam budaya Minangkabau, pendidikan tidak hanya lahir dari rumah, ia juga lahir dari surau. Disanalah peran ayah dalam menanamkan prinsip hidup dan keberanian. Namun disisi lain, ada cerita kecil yang sering luput dibahas. Ketika jarak ratusan ribuan kilometer membentang Bagaimana kita memaknai sosok ayah yang kini hanya bisa ditemui lewat panggilan telepon?

Sebagaimana rindu yang tak selalu dapat diucapkan bahkan lewat telepon, kadang kita sebagai mahasiswa, hari-hari kita disibukkan dengan tugas, kelas, organisasi, dan ambisi masa depan. Terkadang, hubungan dengan ayah hanya sebatas pesan singkat: “Sudah makan? Jaga kesehatan.”, “Uang masih ada?” Lalu kita balas dengan jawaban singkat, “Iya, masih Yah.”. Terkadang kita berpikir ayah tidak menyayangi kita, mendidik kita terlalu keras, bahkan ketika di rantau pun jarang menanyakan kabar. Tetapi bukanlah tanpa alasan, ketika ayah mendidik agar kita menjadi tangguh ia sebenarnya sedang mempersiapkan kita agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Beliau selalu berpesan tidak ada yang akan membantu kita jika kita tidak mampu berdiri dengan kaki sendiri.

Momen Hari Ayah membuat kita sadar bahwa komunikasi sederhana itu sebenarnya adalah bentuk sayang yang jarang kita sadari. Justru jarak menjadi penunjuk betapa besar peran ayah dalam perjalanan pendidikan dan jati diri kita. Terkadang rindu itu tidak kita kirimkan lewat kata-kata, tapi lewat usaha menyelesaikan kuliah tepat waktu, berprestasi, atau sekadar bertahan saat hidup di rantau terasa berat.

Bagi saya merantau bukan sekadar berpindah tempat tinggal, ia juga tantangan di dunia kampus yang penuh pilihan pertemanan, organisasi, tekanan sosial, hingga hal- hal baru yang berbeda dari rumah. Di rantau ajaran ayah muncul sebagai pengingat dalam diri. Ayah mungkin tidak memantau secara langsung, tetapi kata-katanya yang dulu sering dihiraukan kini menjadi Kompas yang diam-diam menuntun langkah.

Ketika merindukan Ayah, terkadang lirik dari lagu ADA Band “Patuhi perintahmu jauhkan godaan Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa” sering teringat dan merasa pas untuk menggambarkan perasaan saat itu. Hanya dengan sepenggal lirik, kita seperti diajak pulang, mengingat bau tanah setelah hujan, suara ibu dari dapur, atau obrolan sederhana bersama ayah dan adik-adik di ruang keluarga.

Terkadang di Hari Ayah kita ingin bercerita, tetapi bingung mengekspresikan sayang, karena terbiasa berkomunikasi seperlunya. Tetapi sebagai mahasiswa rantau, jarak seharusnya bukanlah penghalang untuk kita berhenti memaknai Hari Ayah, justru di momen inilah kita bisa kembali memupuk rasa cinta dan sayang kepada ayah melalui berbagai cara kreatif di era digital ini yaitu:

– Membuat video ucapan di media sosial
– Memamerkan dokumenter kecil untuk nostalgia tentang perjalanan ayah sebagai inspirasi
– Menelepon lebih lama dari biasanya
– Menceritakan pengalaman kuliah yang selama ini tidak sempat dibahas
– Mengirimkan hadiah sederhana dari uang beasiswa

Hari Ayah bagi mahasiswa perantau bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa langkah kita hari ini adalah penyambung dari langkah ayah yang mungkin belum sempat terselesaikan. Kita tumbuh dari ketegasannya, dari keringat yang tidak pernah ia ceritakan, dari pengorbanan yang tidak pernah ia jadikan alasan untuk menyerah. Pada akhirnya sejauh apapun kaki melangkah, ayah adalah rumah, bahkan ketika rumah itu tidak banyak bicara. Tetapi kasih sayangnya berjejak panjang dalam hidup anak-anaknya

Pulang bukan hanya tentang fisik, tapi tentang kembali menyambung percakapan yang tertunda, memeluk sosok yang tak pandai berkata sayang, dan menunjukkan bahwa perjuangan di rantau tidak sia-sia. Karena bagi ayah, anak yang pulang membawa pengalaman, kedewasaan, dan prestasi adalah kebahagiaan yang tidak pernah ia ucapkan tetapi selalu ia nantikan.

Walaupun kita sekarang fokus pada kuliah, organisasi, dan masa depan, kita tahu bahwa perjalanan akan berujung pada rumah. Tidak peduli seberapa jauh kota rantau, ayah sebagai rumah akan selalu menjadi tempat pulang.

Marantau adalah perjalanan menemukan diri, ini menjadi kesempatan bagi kita sebagai mahasiswa dari Minangkabau untuk memaknai Hari Ayah dalam perantauan sebagai pengingat pengorbanan ayah yang jarang diceritakan, memulihkan hubungan yang sering renggang oleh jarak dan banyaknya diam, dan menghargai sosok yang mungkin tidak selalu tampil, tetapi selalu hadir di balik keteguhan keluarga. Ayah tidak selalu banyak bicara, tapi ia menanamkan nilai yang diam-diam membentuk karakter kita. Dan Hari Ayah, memberi ruang untuk mengatakan sesuatu yang sering sulit diucapkan

Terimakasih, Ayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *